Inilah Cara Zona Nyaman Membunuhmu secara Perlahan

Hidup ibarat menaiki sepeda. Kita harus terus bergerak mengayuh sepeda agar bisa terus berjalan. Dalam perjalanannya, kehidupan selalu memberikan pelajaran yang membuat kita tumbuh dan berkembang. Manusia bukanlah mesin yang bersifat mekanik, yang semakin sering dipakai semakin mudah rusak dan menjadi tidak terpakai lagi. Manusia bersifat organik yang jika tubuh, pikiran, dan perasaan ini terus dilatih maka akan bertumbuh dengan sel baru yang lebih kuat.

Seringkali kita mengalami stuck yang mengakibatkan kita tidak lagi bertumbuh dan berkembang. Skillset, pengelolaan emosi, relasi sosial, kondisi finansial, seakan-akan tidak ada perkembangan signifikan. Bukankah kondisi stagnan ini menyalahi fitrah manusia yang didesain oleh Tuhan untuk bertumbuh? Ibarat air jika mengalir maka akan memberikan ribuan manfaat, namun air jika tergenang hanya akan menjadi sumber penyakit.

Pelajarannya jelas, kita tidak boleh diam. Tidak boleh terlena oleh kenyamanan sesaat yang merusak fitrah kita untuk terus belajar sepanjang hidup. Mengapa orang menjadi malas? Karena terlena oleh zona nyaman. Orang-orang malas terus berkubang dalam lumpur zona nyaman yang menjijikan. Mereka pikir itulah kebahagiaan. Bukan! itu hanya kesenangan semu yang berujung penyesalan jangka panjang.

Zona nyaman tak akan membawa kita kemana-mana. Tidak ada pertumbuhan dalam zona nyaman, begitupun tidak ada kenyamanan dalam zona bertumbuh. Tidak ada cara melawan kemalasan kecuali kesadaran untuk keluar dari zona nyaman. Cobalah tingkatkan level kesulitan yang kita hadapi. Jika kita seorang mahasiswa yang sudah nyaman membaca 1 buku sebulan, cobalah baca tamatkan 1 buku dalam durasi 3 minggu.

Kita pun bisa mengeksplor diri melakukan hal-hal baru yang belum kita coba sebelumnya. Selain dapat membuat kita bertumbuh, bisa jadi bidang baru tersebut adalah passion kita sesungguhnya. Who knows? Just give it a shoot!


#ZonaNyaman #Malas #Bertumbuh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cantik itu...

Bergerak dahulu, berpikir kemudian